Ada Apa Dengan Pendidikan ? (2)

Ada Apa Dengan Pendidikan ? (2)

Karya : Ana Herlina

Generasi muda hari ini adalah pemimpin hari esok, itulah kata-kata mutiara yang sering kita dengar. Karena memang ketika yang tua mati yang muda terlahir. Siklus hidup yang selalu berputar dan beregenerasi. Namun generasi seperti apakah yang akan memimpin negara kita di kemudian hari? tentu semua orang mendamba-dambakan yang disiplin, berani, tangguh, amanah dan cerdas dalam melaksanakan amanahnya.

Seorang pemimpin yang memiliki kriteria diatas, tidak terlahir begitu saja kecuali Rasulullah, SAW. Perlunya pendidikan yang tepat untuk mencetak generasi yang berakhlakul Karimah seperti Rasulullah SAW. Namun kita ambil pemaparan yang universal agar tulisan ini bisa komprehensif.

Sebagaimana yang sudah dipapakan dalam tulisan Ada Apa dengan Pendidikan ? (1), dalam tulisan ini akan lebih di bahas pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, yakni SMU sederajat dan pada tulisan berikutnya tentang Perguruan Tinggi. Karena pada jenjang pendidikan ini peserta didik memanglah orang-orang yang siap untuk ditempurkan pada dunia masyarakat yang sebenarnya.

Pada kasusnya SMU/SMA/MA/SMK ada beberapa hal yang menjadi kasus yang universal di sekolah manapun. yakni tentang pengelompokan peminatan. Yang ketika sebelum adanya sistem KURTILAS (KUrikulum Dua Ribu Tiga Belas). Pengelompokan siswa pada peminatan siswa jatuh pada kelas XI, siswa dipilih untuk masuk kepada kelas IPA,IPS, Bahasa, dan Agama untuk di beberapa MA. Sedangkan untuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) para siswa diharuskan memilih pada pertama masuk sekolah. Ironinya sekolah yang berbasis kejuruan dulu sempat booming bahwa lulusannya bisa ceoat langsung kerja. Maka pokok dari kasus-kasus diatas adalah apakah kehidupan masyarakat itu harus di kelompok-kelompokan? dan Apakah tujuan dari Sekolah adalah untuk bekerja/menghasilkan uang/

Mengutip dari Prakata Mochtar Buchori pada buku Pengantar Benih karya Samsoe’oed Sadjad bahwa wacana dengan tradisi terbelahnya pendidikan menengah menjadi dua aliran ialah pendidikan matematika dan sosial budaya, inilah model awal pendidikan yang disebut “Pendidikan Penuh Makna (meaningful education). Sekolah-sekolah kita sepertinya masih berjalan dalam bayangan tradisi yang diprakarsai Sir Francis Bacon pada tahun 1597 yang menekankan pada akumulasi pengetahuan faktual, mengabaikan penanaman kesadaran nilai.

dapat disimpulkan dari kutipan diatas bahwasannya pendidisikan yang membelah dua jurusan tadi membuat ketidak seimbangan pada pola pikir peserta didik. Karena memang kedua ilmuu pengetahuan baik sains dan sosial tidak bisa dipisahkan. Kemudian untuk jurusan agama dan Bahasa, merekapun membutuhkan dan memang saling membutuhka ilmu pengetahuan baik IPA,IPS, Bahasa, Agama. Karena hal tersebut ada di dalam masyarakat, namun yang menjadi target dari pendidikan adalah nilai kuantitatif. Bahwa paradigma masyarakat masih terkungkung pada pemikiran yang beranggapan nilai 100 adalah yang harus didapatkan peserta didik, angka-angka adalah hal yang digadaikan dengan ilmu. Kompetisi untuk menjadi juara kelas adalah sasaran utama, padahal yang seharusnya diterapkan dalam pendidikan adalah karakter yang dibentuk dari kesadaran-kesadaran nilai.

Penguatan Pendidikan Berkarakter dimuat dalam Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017, pada Pasal 1 ayat 1 Perpres tersebut dijelaskan bahwa ” Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)”. Yang selanjutnya pada Pasal 6 ayat 1 dikatakan bahwa  Penyelenggaraan PPK pada Satuan Pendidikan jalur Pendidikan Formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a angka 1 dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan: a. Intrakurikuier; b. Kokurikuler; dan c. Ekstrakurikuler. Jadi pendidikan karakter ini hanya dimuat pada kegiatan sekolah selain jam pelajaran. Ironi memang, bahwa waktu yang paling banyak digunakan di sekolah adalah waktu belajar mengajar yang hampir 8 jam/hari.

Solusi yang ditawarkan adalah dengan mengubah sistem pendidikan formal atau pendidikan non formal menjadi sistem yang pendidikan yang berkarakter. Karena pembentukan karakter yang tepat akan mempengaruhi laju pembangunan dari bangsa ini. Seperti uraian diawal tulisan ini, generasi pemuda adalah pemimpin yang akan datang. Maka ketika generasi muda sudah memiliki karakter yang di cita-citakan segala keresahan yang melanda hari ini seperti korupsi, kalusi, usap, dan hal-hal tercela lainnya tidak akan terdengar akibat pendidikan karakter yang benar-benar kepada para calon pemimpin negeri.

Ironi selanjutnya adalah pendidikan sebagai modal untuk mencari kerja?
Bagaimana tidak, seluruh perusahaan mensyaratkan lamaran pekerjaan dengan melampirka ijazah minimah SMA. Ini berarti pendidikan di Indonesia bagaikan industri-industri yang memproduksi ijazah untuk siap kerja. Apalagi yang berbasis kejuruan dengan iming-iming siap kerja di perusahaan ini, di perusahan itu. Dengan kasus yang demikian halnya maka cita-cita Negara ini yang dituangkan dalam pembukaan UUD’45 alinea keempat yakni mencerdaskan kehidupan bangsa hanya sebatas cerdas mendapatkan posisi di dalam suatu perusahaan. Lantas kemana makna pendidikan yang sebetulnya yang terkandung dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undnag No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

BIODATA PENULIS

Nama : Ana Herlina
Tempat, Tanggal Lahir : Pangandaran, 09 Maret 1997
Jurusan : Ilmu Hukum
Semester/Kelas : VI/A
Asal : Pangandaran
Kegiatan : Menulis, Blogger, aktif di Alam Jabar
Qoute : “Menulis atau mati”