PILGUB JABAR 2018 DAN PARTISIPASI MASYARAKAT

PILGUB JABAR 2018 DAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Karya : Muhamad Rizki
Ketua Umum KEMPAKA Bandung Raya

 

Setelah sukses melaksanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang di gelar pada 19 April 2017 kemarin, kali ini rakyat Indonesia akan kembali dihadapkan pada persoalan yang sama, yakni Pemilihan Gubernur yang akan di selenggarakan pada 2018 mendatang.

Pemilihan Gubernur (Pilgub) yang akan di gelar pada 2018 mendatang disambut baik oleh semua elemen masyarakat di Indonesia, dalam perjalanannya, meskipun pemilihan gubernur masih terhitung lama, namun persiapan serta konsolidasi, dan silaturahmi yang dilakukan oleh partai politik sudah gencar dan masif dilakukan, seperti yang dilakukan di 17 Provinsi Pemilu Kada serentak 2018 nanti, salah satunya Provinsi Jawa Barat yang gencar dan masif di beritakan oleh media, baik media cetak maupun media Online, selain gencarnya media, menjelang Pemilihan Gubernur ini sejumlah spanduk juga bertebaran di pinggir Jalan baik di pusat perkotaan maupun perkampungan.

Kali ini wacana Pilkada Serentak kloter ketiga yang akan di gelar pada 2018 mendatang, cukup meramaikan media-media, selain itu menjelang pemilihan gubernur ini, banyak nama-nama bakal calon kepala daerah yang bermunculan dan akan maju pada 2018 mendatang.
Dari mulai nama calon yang berwajah lama maupun berwajah baru, kendati pun demikian, yang harus di garis bawahi bukanlah ramainya wacana Pilgub 2018 dan banyaknya nama-nama bakal calon yang muncul ke permukaan, akan tetapi yang terpenting yang harus di garis bawahi oleh masyarakat adalah sejauh mana nama-nama bakal calon ini memiliki visi dan misi untuk membangun dan memajukan Daerah menjadi lebih baik, selain itu yang penting juga untuk di garis bawahi adalah sejauh mana nama-nama calon yang muncul ini memberikan kontribusi kepada daerahnya, baik nama calon yang muncul di daerah Jawa barat ataupun di 17 Pemilukada serentak lainnya.
Jangan sampai dalam momentum Pemilihan Gubernur 2018 mendatang ini rakyat kembali memilih calon kepala daerah yang tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang baik, dan hanya menjadi boneka partai politik semata, dalam hal ini masyarakat juga harus jeli dan selektif dalam memilih calon kepala daerah pada 2018 mendatang, jangan sampai memilih pemimpin yang tidak jelas asal usulnya, ibarat membeli kucing dalam karung.

Selain dari pada calon kepala daerahnya juga Masyarakat harus ikut andil dalam menyukseskan pesta Demokrasi 2018 nanti dengan memberikan hak politiknya untuk memilih pemimpin di Jawa Barat 2018-2023. Pada pilgub 2013, pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar ditetapkan sebagai pemenang dengan perolehan 6.515.313 suara atau 32,39% dari total suara sah 20.115.423. Namun ternyata pasangan yang diusung oleh PKS, PPP, Hanura, dan PBB tersebut pada dasarnya kalah telak dari jumlah masyarakat yang tidak turut menggunakan hak pilihnya dalam Pilgub Jabar 2013, totalnya mencapai 12.421.557 orang. Dalam pilgub tersebut jumlah orang yang tidak menggunakanhak pilihnya mencapai 36,15% dari daftar pemilih tetap (DPT). Artinya, tingkat partisipasi masyarakat hanya 63,85%.
Kendati angka partisipasi lebih tinggi bila dibandingkan 2013. Pada 2008, pemenang pilkada juga dikalahkan oleh golongan putih alias golput mencapai 9.130.604 suara, melebihi perolehan masing-masing ketiga pasangan peserta pilgub. Mengkhawatirkan memang di Negara Demokrasi ini kita dihadapkan dengan kurangnya Partisipasi Politik dalam menyukseskan pesta Demokrasi itu sendiri, Hak politik warga negara mencakup hak untuk memilih dan dipilih, penjaminan hak dipilih secara tersurat dalam UUD 1945 mulai Pasal 27 ayat (1) dan (2); Pasal 28, Pasal 28D ayat (3); Pasal 28E ayat (3). Sementara hak memilih juga diatur dalam Pasal 1 ayat (2); Pasal 2 ayat (1); Pasal 6A ayat (1); Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 22C ayat (1) UUD 1945.
Negara indonesia adalah Negara hukum, segala tindak tanduknya dalam bertatanegara sudah diatur dalam Konstitusi dan aturan dibawahnya sehingga sudah sepatutnya masyarakat, pemerintah dan elemen intelektual mendorong dan saling mengingatkan dalam menggunakan hak politiknya dalam bertatanegara dengan harapan keinginan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama  dengan cara-cara yang demokratis.

Biodata Penulis

Nama : Muhamad Rizki
Tempat, Tanggal Lahir : Karawang, 07 Juni 1995
Jurusan : Ilmu Hukum
Semester/Kelas : VII C
Asal : Karawang
Kegiatan : Bantu orangtua, Penulis koran, Aktif di Orda Kempaka Bandung Raya
Qoute : “Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis~ imam Al-Ghazali”.